Tampilkan postingan dengan label IM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Syaikh Muhammad Badi’: Ikhwanul Muslimin Semakin Mendekati Khilafah Islamiyah

Ikhwanul Muslimin semakin dekat untuk mencapai “tujuan akhir” yang ditetapkan oleh pendiri Ikhwanul Muslimin  Hasan Al Banna pada tahun 1928. Proyek ini dimulai dengan pembentukan pemerintahan dan berakhir dengan pembentukan sebuah khilafah Islamiyah, kata Syaikh Muhammad Badi’, Mursyid ‘Amm Ikhwanul Muslimin di Mesir pada hari Kamis kemarin (29/12), dalam pesan mingguannya di situs resmi kelompok tersebut.
Ketika Ikhwanul Muslimin pertama memulai misinya, mereka bertujuan untuk membimbing dan mendukung kebangkitan bangsa sehingga dapat memperoleh kembali posisinya setelah lama mengalami keterlambatan dan resesi, Badie mengatakan.
Dia melanjutkan dengan menjelaskan dua tujuan yang digariskan oleh Imam Hasan Al Banna di konferensi keenam jamaah Ikhwanul Muslimin. Tujuan pertama adalah untuk meningkatkan jumlah keanggotaan jamaah. Yang kedua adalah pembentukan sebuah rencana jangka panjang untuk melakukan reformasi dari semua aspek kehidupan masyarakat.
Imam Hasan Banna menentukan tahap di mana tujuan akhir dapat dicapai, kata Syaikh Muhammad Badi’. Langkah pertama adalah pembinaan individu, keluarga, lingkungan masyarakat, sistem pemerintahan, dan akhirnya membangun sistem khilafah Islamiyah.
Dalam pesannya Kamis kemarin, pemimpin Ikhwan mengaitkan Arab Spring dengan tujuan akhir dari Ikhwan, mengatakan bahwa pemberontakan bermaksud untuk mencapai target tertentu, di mana mereka menolak untuk berkompromi.
“Dalam musim semi Arab tekad revolusioner rakyat untuk mencapai target tertentu di mana mereka setuju, dan tidak pernah berkompromi, merupakan faktor utama dalam menjatuhkan rezim yang menindas dan setiap organisasi yang korup. Kita sekarang semakin dekat untuk mencapai kebaikan yang lebih besar untuk mendirikan sebuah rezim yang berkuasa yang sesuai dengan yang kita inginkan termasuk semua lembaga dan elemen,” kata Syaikh Muhammad Badi’.
Dia menuduh para penentang Ikhwanul Muslimin berusaha menghalangi jamaah dengan menciptakan konflik-konflik yang tidak perlu, yang pada kenyataannya hanya dalih untuk merobek persatuan bangsa dan membatalkan revolusi.
“Kami, setelah majelis syura, akan bergerak maju, dan kami berkomitmen untuk mencapai tujuan bangsa dan revolusi yang kami inginkan, termasuk mewakili jutaan rakyat Mesir di parlemen dan mulai pembentukan lembaga negara yang adil, ” kata Syaikh Muhammad Badi’ menegaskan.

Sepak Terjang IM di Indonesia

Indonesia adalah negeri Islam terbesar di dunia dalam jumlah penduduknya. Telah merasakan kepedihan penjajahan asing dari negara-negara Barat seperti Portugal, Belanda dan Jepang. Sehingga isu umat Islam di negara ini menjadi ingatan setiap muslim di penjuru dunia dan menyibukkan opini nasional serta dunia Islam.
Oleh karena Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), sejak awal, sangat konsen dengan persoalan umat Islam di Indonesia dan menempati level opini dan praktis.
Di level opini, IM berperan dalam menampilkan isu umat Islam Indonesia dan mengecam tindak kejahatan penjajah yang dilakukan di atas negeri Indonesia. Salah satu upaya itu adalah mengirimkan kawat telex kecaman penindasan Belanda atas Indonesia.
Terkait persoalan kemerdekaan rakyat Indonesia, kantor pusat IM mengirimkan surat protes kepada Sekjen Dewan Majelis Umum PBB dan Menteri Belanda di Mesir. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut:
“Serangan Membabi-buta Belanda ke Indonesia adalah tindakan penindasan terhadap dunia Arab dan Islam, serta rasa kemanusiaan secara umum. Oleh karena itu, IM, atas nama bangsa Arab dan Islam, meminta pertanggungjawaban negara Anda atas tumpahnya darah saudara muslim mereka di negeri Indonesia yang independen.”
IM di wilayah Lembah Nil, memprotes penjajahan Belanda atas bangsa Indonesia. Mereka meminta kepada PBB, atas nama dunia Arab dan Islam, untuk intervensi dalam urusan ini, menghentikan penjajahan dan memutuskan keputusan yang benar.
Dalam beberapa konfrensi IM, banyak dipertegas tentang penguatan hubungan antara negara-negara Arab dengan negara-negara tetangganya non Arab, seperti Indonesia.
Sebagai contoh, dalam konfrensi rakyat pertama IM yang diselenggarakan di Kairo pada bulan Oktober 1945 ada tuntutan wajib mengakui kemerdekaan Indonesia dan dijaga dari campur tangan asing manapun.
Al-Imam Al-Banna juga menempatkan isu penjajahan Indonesia ini dalam persoalan yang bisa menghadang kebangkitan Islam. Dalam risalah berjudul “Problematika kita dalam konteks sistem Islam” Al-Banna mengatakan; ”Dan Indonesia yang jumlah penduduknya mencapai 70 juta jiwa, dengan mayoritas muslim, ditekan oleh Belanda yang terus melanjutkan penjajahan Sekutu atas negeri-negeri Islam. Belanda ingin menjauhkan bangsa Indonesia dari hak utamanya untuk bebas dan merdeka.”
Bidang Hubungan Dunia Islam dan Isu Indonesia:
Adapun di level praktis, bidang hubungan Dunia Islam IM, sejak pendiriannya tahun 1944, menjalankan peran aktif untuk memperkuat hubungan antara IM di Mesir dan kaum muslimin Indonesia. Bidang ini sengaja menghubungkan negeri Islam satu dengan negeri-negeri lainnya, menyatukan kebijakan umum dan mendirikan komisi Timur Jauh, mencakup negara-negara timur dan tengah Asia, termasuk didalamnya Indonesia.
IM juga merangkul gerakan Islam pejuang di Indonesia. Salah satu gerakan itu adalah Gerakan Pejuang dibawah pimpinan Ahmad Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan orang-orang yang serius berjuang hingga Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Kemudian mengumumkan deklarasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang ditanda-tangani oleh Soekarno dan Hatta.
IM memiliki pengaruh baik dalam gerakan Indonesia, bahkan sebuah partai Islam menyatakan bergabung dengan IM.
Demikianlah IM terus mendukung rakyat Indonesia hingga mencapai kemerdekaan tahun 1945. Beberapa delegasi Indonesia datang ke kantor pusat IM sehingga tali hubungan ini semakin kuat. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar memiliki peran dalam membawa ideologi IM saat mereka pulang ke negaranya lalu menyebarkannya.
Gaung Dakwah IM di Indonesia:
Indonesia menyambut baik dakwah IM. Pemuda dan putera-putera terbaik Indonesia bergabung dibawah panji IM. Rumah-rumah IM di Kairo dan negara-negara Arab menyambut para pejuang dan pemimpinnya. Kantor pusat IM, dari belakang, mensupport bangsa Indonesia semuanya, mendukung isu Indonesia. Bahkan membuat kolom khusus tentang isu Indonesia, dalam koran IM.
Secara terus terang, IM mengecam kekejaman Belanda yang memaksakan kehendaknya kepada bangsa Indonesia dengan kekuatan senjata.
Tanggal 20 Agustus 1946, Mursyid ‘Am IM menerima kawat telex dari warga Indonesia yang tinggal di Mekkah. Isinya sebagai berikut:
“Kami menyampaikan aspirasi atas upaya Anda dalam membela isu Indonesia dan sekaligus mengucapkan selamat atas setahun dari kemerdekaan Indonesia.”
Malam tanggal 6 Mei 1946, delegasi Indonesia dipimpin oleh H. Agus Salim, Deputi Menlu Indonesia berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih Indonesia atas dukungan IM kepada mereka.
Tanggal 10 November 1947, mantan PM Indonesia dan penasehat Presiden Soekarno, Sutan Syahrir, berkunjung ke kantor pusat dan koran IM. Kedatangann mereka disambut dengan gembira dan meriah oleh IM.
Kantor pusat IM mendukung komisi yang pernah dibentuk untuk solidaritas Indonesia dan Mursyid ‘Am dipilih menjadi salah satu anggotanya.
IM juga memberikan ruang besar, khususnya di majalah “Al-Muslimun” kepada pemikir-pemikir dan juru dakwah Indonesia untuk menuangkan ide-idenya di majalah tersebut. Salah satu contohnya, pejuang  Dr. M. Natsir yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Imam Al-Banna dan manhaj IM dalam melakukan perubahan (reformasi). Ust. Abdullah al-Aqil, semoga Allah merahmatinya, mengomentari Dr. M. Natsir. Saat itu M. Natsir ditanya tentang ulama dan tokoh yang berpengaruh. Dalam jawabannya, M. Natsir menyebutkan, salah satu tokoh berpengaruh itu adalah Imam Hasan Al-Banna.
Imam Al-Banna dalam Pandangan Orang Indonesia:
Salah satu bentuk interaksi kuat antara IM dan bangsa Indonesia adalah catatan-catatan dari sejumlah rakyat Indonesia yang menyanjung ketokohan Imam Al-Banna. Catatan-catatan ini sudah dimuat dalam majalah “Al-Dakwah” edisi 104 tahun ketiga tanggal 25 Jumadil Awal 1372 H atau bertepatan 10 Februari 1953.
Ulama Indonesia, Ust. Muhammad Hasyim, mengomentari peran asy-Syahid Al-Banna dalam isu Indonesia:
“Memperingati kesyahidan Ust. Hasan Al-Banna, rakyat Indonesia mengingat upaya besar dan pengaruh dukungan beliau kepada isu Indonesia di Mesir dan timur Arab. Mereka mengenang dalam peringatan kesyahidan Al-Banna, apa yang mereka dapatkan dari dampak dakwah IM, yang diwakili oleh Imam asy-Syahid. Gaung dakwah IM dirasakan oleh seluruh kaum muslimin di Indonesia. Dakwah yang menyerukan untuk mengambil ajaran-ajaran Islam dan menerapkan risalah agungnya.
Almarhum Hasan Al-Banna, memiliki kenangan dakwah tersendiri di mata pemuda Indonesia karena konsen beliau membela isu Indonesia di negaranya, Mesir. Koran, majalah dan percetakan IM menjadi ruangan luas bagi aktualisasi kegiatan dan mengkampanyekan isu negaranya.
Saya berharap dalam peringatan ini, agar tali hubungan antara negara Indonesia dengan Mesir terus menguat. Saya mengharap IM bisa berjalan sesuai dengan konsep yang dirintis oleh Imam Syahid dalam berdakwah dan bekerjasama antar umat Islam. Semoga Allah ta’ala merahmati Imam Syahid dan meridhoinya.”
Ust. Ahmad Hasyim, perwakilan warga Indonesia di Mesir, di majalah yang sama (edisi 52) tanggal 16 Jumadil Awal 1371/ 13 Februari 1952, mengomentari dengan mengatakan:”Orang Indonesia menilai bahwa gerakan IM adalah gerakan Islam yang berupaya membebaskan bangsa-bangsa muslim dari penjajahan. Mereka menemukan prinsip-prinsip ini ada dalam IM dan upaya asy-Syahid Imam Al-Banna dalam membela isu Indonesia bersama perjuangannya. Sehingga buku dan majalah IM menjadi pusat perjuangan membela Indonesia untuk meraih kemerdekaannya.
Oleh karena itu, para pemimpin Indonesia yang sedang berkunjung ke Mesir, dari berakhirnya perang hingga kesyahidan Imam Syahid Al-Banna, selalu kunjungan dan ketemu dengan Al-Banna selalu menjadi agenda utama kunjungan mereka itu.
Dari sejumlah pertemuan dengan Almarhum Hasan Al-Banna, penulis menemukan kekuatan Islam dalam dirinya. Beliau sangat konsen dengan isu-isu pembebasan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Kita berhutang budi kepada asy-Syahid Al-Banna.
Sumber rujukan:
-          Majmu’atur rasail Imam asy-Syahid Hasan Al-Banna, dar tauzi wan nasr Islamiyah.
-          Qolu ‘anil Imam Al-Banna, Jum’ah Amin Abdul Aziz, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
-          Silsilah min turotsil Imam Al-Banna; Qodhoya Alam Islami, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
-          Silsilah min turotsil Imam Al-Banna; ilal ummah nahidhoh, Syarikah Basair wal buhus wad dirasat.
-          Min A’lami dakwah wal harokah islamiyah al-muaseroh: Ust. Abdullah al-Aqil, jilid pertama, cet. Darul Bashir.
-          ikhwan wikipidea.

Sabtu, 31 Desember 2011

Bayan IM Terkait Tahun Baru dan Kelahiran Al-Masih

Bayan IM Terkait Tahun Baru dan Kelahiran Al-Masih

al-ikhwan.net – Cairo, Dengan senang hati kami haturkan ucapan selamat yang paling tinggi kepada saudara-saudara kami penganut Nashrani atau masihiyyin, bahkan kepada umat Islam, bertepatan dengan lahirnya yang mulia Almasih alaihissalam, Nabi pembawa kasih sayang, berakhlak mulia dan contoh teladan utama, yang disebutkan secara jelas oleh Al-Qur’an Al-Karim. Dan menjadikan iman kepadanya sebagai inti aqidah Islam, bahkan Al-Qur’an memuliakan ibunya, Maryam yang mulia, alaihassalam.

Bunda Maryam mendapat kemulian yang tiada bandingnya, ketika Al-Qur’an mengkhususkannya dalam satu surat lengkap, umat Islam beribadah dengan membacanya dalam setiap kesempatan.

Bertepatan dengan peristiwa ini, kami mengajak Lembaga Tinggi Militer dan kepolisian untuk menjaga gereja-gereja tempat ibadah, sebagaimana TPS-TPS pemilu mendapat penjagaan dari mereka.

Begitu juga kami telah mengeluarkan qarar berupa pembentukan panitia yang terdiri dari lapisan masyarakat yang tergabung sebagai anggota Ikhwanul Muslimin guna bersama-sama menjaga tempat-tempat ibadah umat Nashrani, sebagai bentuk pengamalan firman Allah swt.

وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (٤٠)

“Dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” QS. Al-Hajj:40.

Dengan demikian, tidak akan ada lagi tangan-tangan jahil dan jari-jari berdosa yang merusak perayaan-perayaan ini, sebagaimana yang selalu dilakukan oleh rezim korup yang telah tumbang.

Sikap kami ini bukanlah berlebihan, bukan juga memaksakan. Akan tetapi inilah hakikat dari syiar dan prinsip kami, sekaligus sikap kami terhadap saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air, begitu juga karena ikatan kemanusiaan, sepanjang sejarah berdirinya kebangkitan Mesir yang sangat panjang. Semangat ini telah nampak sekali pada saat revolusi 25 Januari yang diberkahi, pada saat itu semua lapisan masyarakat dipadukan dalam persaudaraan, cinta dan kerja sama, inilah yang menjadikan kami bekerja dengan usngguh-sungguh merawat dan menyuburkan semangat ini dan kami mengharapkan semua komponen bangsa ini untuk membantu kami dalam mewujudkan itu, jangan sampai mereka dipalingkan oleh seruan pihak-pihak yang mencoba menebar permusuhan dan menginginkan adu domba di antara masyarakat Mesir yang satu.

Demikianlah, Ikhwanul Muslimin telah membuat qarar berupa rekomendasi yang sangat tinggi dengan langsung dipimpin oleh Fadhilatut Duktur Mahmud Izzet, Wakil Fadhilatul Mursyid Am, guna menjalankan kewajiban memberikan ucapan selamat dalam momentum ini.

Dan Tuhan yang Maha Tinggi telah memerintahkan kepada kami untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada mereka. Allah swt. berfirman:

وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ (٨٢)

“Dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani”, yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” QS. Al-Maidah:82.

Al-Ikhwan Al-Muslimun
Cairo, 3 Shafar 1433 H / 28 Desember 2011

Ternyata Kalangan Kristen Koptik Mesir Pilih Partai IM, ini alasan mereka...


Salah satu penyumbang kemenangan Freedom and Justice Party (FJP) partai bentukan Ikhwanul Muslimin pada pemilu Mesir berasal dari kelompok Kristen Koptik. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi IM ikhwanweb, para pemilih yang berasal dari pemeluk Kristen Koptik memberikan alasanya mengapa memberikan totalitas dukungan terhadap Partai IM.

Merval Williaw, salah seorang pemeluk Kristen Koptik menyatakan bahwa pada pemilihan putaran pertama memilih FJP dan pada putaran selanjutnya saya juga akan memilihnya kembali. “Alasan utama mengapa saya mendukung dan memilih FJP adalah karena partai ini memfokuskan diri pada keadilan bagi seluruh masyarakat Mesir dan saya percaya 100% FJP akan mewujudkan keadilan bagi semua”.

Pemeluk Kristen Koptik lainya yang juga memilih FJP adalah Farha Maher Ibrahim. Maher memaparkan, “Saya tidak terpengaruh dengan propaganda negatif atau rumor yang beredar tentang negara Islam. Bagi saya tidak masalah, selama negara Islam memberikan keadilan dan kebebasan bagi semua pihak, maka itu perlu didukung, saya berkeyakinan FJP yang dilahirkan dari rahim Ikhwanul Muslimin ini dapat mewujudkan keadilan itu.”

Selanjutnya, Amal Sobhi yang juga pemeluk Kristen Koptik memberikan harapanya, “Semoga FJP sukses dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan bagi semua masyarakat Mesir. Saya melihat bahwa FJP sangat demokratis, hal ini terlihat dari prioritas utama FJP untuk meweujudkan keadilan dan kesetaraan hak baik Muslim maupun Kristen Koptik”.






*)http://www.ikhwanweb.com/article.php?id=29447

*)www.fimadani.com

Kamis, 29 Desember 2011

Dengarkan Suara Rakyat Palestina


Gelombang demokratisasi yang saat ini berlangsung di Timur Tengah berdampak baik bagi perkembangan perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan. Rakyat Palestina harus menyambut angin reformasi yang sedang berhembus di Timur Tengah dengan semangat persatuan dan menghindari perselisihan  diantara faksi-faksi perjuangan Palestina.

Gelombang demokratisasi di Timur Tengah atau sering disebut Arab Spring mempunyai kesamaan karakter antara negara yang satu dengan lainnya, yaitu kejatuhan rezim oleh gelombang ketidakpuasan rakyatnya.

Demikian dikatakan Wakil Ketua DPP PKS Bidang Kebijakan Publik, Almuzammil Yusuf dalam deklarasi masyarakat Asia Pasifik untuk Kemerdekaan Palestina (Asia Pacific Community for Palestine) di Marocco House, jalan Tasikmalaya Menteng, Jakarta, Selasa (29/11/2011).

Hadir dalam deklarasi tersebut Suripto dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), koordinator AsPac Community for Palestine Bachtiar Nasir, pakar hukum Bambang Widjojanto, Dubes Palestina Fariz Mehdawi, Ketua Harian Komite Nasional UNESCO untuk Indonesia Arif Rahman, perwakilan Walubi, Persatuan Pemuda Katolik, dan sejumlah ormas lainnya.

"Gerakan demokratisasi atau Arab Spring berangkat dari kesamaan, yakni tuntutan agar rezim yang berkuasa harus mendengar suara hati publik. Karena itu faksi-faksi di Palestina, Hamas dan Fatah harus menghilangkan perbedaan. Pemerintah Palestina harus mendengar suara hati rakyatnya, bukan suara Amerika," cetus Almuzammil.

Lebih lanjut Almuzammil mengatakan, Arab Spring menggambarkan suara hari rakyat Arab yang menginginkan keadilan dan kebebasan, serta memberikan kesempatan kepada gerakan-gerakan Islam untuk tampil. Menurutnya, apa yang terjadi di Timur Tengah sangat besar karena ada rekayasa Allah SWT dan memberikan harapan baru bagi perjuangan di Palestina.

"Apa yang terjadi di sana saat ini diluar analisa pakar-pakar politik internasional. Ini sesuatu yang besar karena ada intervensi Allah. Di Mesir, kelompok Islam menang. Di Tunisia, kelompok Islam menang. Di Maroko juga demikian. Kemungkinan di Suriah pun demikian. Karena itu kita harus terus memberikan dukungan perjuangan kepada mereka dan tetap bekerja," jelas anggota komisi I DPR RI ini.

Diluar jazirah Arab, kata Almuzammil, rakyat Palestina bergantung pada dua kekuatan Islam yang besar, yakni di Asia Tengah (Turki) dan Asia Tenggara (Indonesia). Gelombang dukungan dari Turki dan Indonesia akan melengkapi gelombang yang muncul di Timur Tengah untuk menekan Israel. Karena bangkitnya kekuatan Islam di sejumlah negara Arab, lanjutnya, akan memberi tekanan yang semakin kuat terhadap Israel.

"Karena itu kondisi ini harus dimanfaatkan rakyat Palestina untuk memperkokoh persatuan, dan pemerintah Palestina harus mendengarkan suara hati rakyatnya," pungkas Almuzammil.

Sabtu, 24 Desember 2011

Persepektif Partai IM di Mata Profesor Azyumardi Azra


Partai Kebebasan dan Keadilan
Oleh Azyumardi Azra* (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1998-2006)
Jumpa lagi dengan Essam el-Haddad; kali ini dalam Forum Demokrasi bertajuk ‘Sustaining Democracy in the Arab World’ yang diselenggarakan International Institute for Democracy Assistance (IDEA) di Madrid, Spanyol, 27-28 November 2011. Sebelumnya 6-8 April 2011, saya pertama kali bertemu dengan el-Haddad dalam diskusi meja bundar di kantor pusat International IDEA di Stockholm—membahas tentang gejolak transisi Mesir pasca-Mubarak. Sejak pertama bertemu, percakapan saya sangat mengalir dengan el-Haddad, tokoh muda al-Ikhwan al-Muslimun (IM), penyandang gelar PhD dari Universitas Birming ham, Inggris. Ia juga menjabat ketua Dewan Penyantun Islamic Relief yang bermarkas di London. Kehangatan dalam percakapan, bukan hanya karena saya bisa bercerita panjang lebar padanya tentang banyak tokoh el-Haddad lain—dan juga warga keturunan Hadharim Indonesia—tapi karena pembicaraan saya yang ‘nyambung’ tentang IM. Saya memang sudah lama mengkaji IM—sejak mengambil MA Kajian Timur Tengah di Columbia University, New York (1986-88) dalam perspektif perbandingan dengan masyarakat Muslim Asia Tenggara.
El-Haddad agaknya tipikal IM; berpendidikan tinggi, profesional, analitis, dan argumentatif. Karakter ini berbeda dengan (mis)persepsi di kalangan Barat yang sertamerta memasukkan IM ke dalam kaum ‘Islamis’ —istilah yang menjadi ‘anathema’ bagi Barat. Apa yang mereka maksud dengan ‘Islamis’? Sederhananya, mengacu kepada golongan Islam yang kaku pemahaman keislamannya dan tidak toleran terhadap perbedaan baik antarumat Islam sendiri, maupun dengan umat non-Muslim.
El-Haddad menolak mispersepsi dan bias yang menggeneralisasi IM dan sayap politiknya Partai Kebebasan dan Keadilan/PKK ( Hizb al-Hurriyah wa al-‘Adalah, didirikan IM 6 Juni 2011) sebagai kaum ‘Islamis’. Ia mengemukakan, tidak seluruh gerakan dan partai Islam dapat dimasukkan ke dalam ‘kotak tunggal’ Islamis. Karena, kaum ‘Islamis’ tidak monolitik dan memiliki spektrum cukup luas. El-Haddad mengambil contoh PKK dengan Wakil Ketua Rafiq Habib, seorang Protestan, mendampingi Ketua Umum Mohammad Mursi dan pimpinan lain berlatar belakang IM. Dengan begitu, PKK menampilkan diri sebagai parpol Islam inklusif terhadap non-Muslim. Dalam perkembangan Mesir pasca-Mubarak, banyak kalangan di Barat dan di Timur Tengah, dan bahkan masyarakat Mesir sendiri, khawatir transisi menuju demokrasi ha nya memberikan kesempatan besar kepada kekuatan yang mereka sebut sebagai ‘Isla mis’ merebut kekuasaan untuk kemudian menerapkan agenda Islamisasi dengan mengor bankan golongan non-Muslim dan kelompok sekuler-liberal. Teoretisasi persepsi ini terkenal sebagai ‘ democracy trap’, yai tu demokrasi mengandung jebakan tampilnya kaum Islamis mengambil alih kekuasa an melalui sistem dan proses demokrasi. Apakah ‘ democracy trap’ bisa berlaku dalam transisi Mesir menuju demokrasi? Kelihatan sulit. Pemilu legislatif 28 November 2011 menghasilkan PKK sebagai peraih suara terbanyak—dengan perolehan suara sementara sekitar 40 persen. Kemudian Partai al-Nour, ‘partai kaum Salafi’, memperoleh sekitar 20 persen suara. Partai ini semu la berkoalisi dengan PKK dan Partai al-Wafd; tetapi 3 September 2011 menarik diri dari koalisi karena menganggap PKK terlalu moderat dan kompromistis, dan pada 29 September membentuk koalisi baru guna merekrut kalangan lebih berorientasi Salafi di dalam IM. Dikotomi intra-Islam antara PKK dan Partai al-Nour khususnya jelas tidak mudah diatasi dan meningkatkan pergumulan kian intra umat Muslim. Dalam pada itu, IM dan PKK (sebagai kubu Muslimin) terlibat pula dalam pergumulan dengan berbagai kelompok liberal-sekuler dan non-Muslim, meski tidak selalu terlihat secara jelas di permukaan dinamika sosial-politik. Tetapi, hal inilah yang paling mendasari mengapa IM dan PKK tidak ikut serta mengerahkan massa ke Maydan Tahrir (Tahrir Square) yang berujung dengan kekerasan dan tewasnya lebih dari 30 demonstran menjelang Pemilu Parlemen 28 November lalu. Alasan yang sama membuat mereka tidak memboikot Pemilu. Tetapi, bertolak belakang dengan dugaan banyak pengamat, massa berbondong-bondong memberikan suara; dan pemilu berlangsung relatif aman. Menurut el-Haddad, pengerahan massa merupakan bagian dari rekayasa dan skenario politik untuk menimbulkan kekacauan yang dapat menjadi justifikasi bagi militer guna terus mencengkeram kekuasaan. Dan, para pencipta skenario semacam itu merasa lebih ‘aman’ dan ‘terjamin’ di bawah kekuasaan militer. Jalan panjang menuju demokrasi sipil masih bakal berlangsung lama dan sekaligus pedih di Mesir bukan hanya karena kerumitan penyelenggaraan Pemilu di negeri ini, tetapi juga karena terus berlangsungnya pergumulan perebutan kekuasaan. Apakah IM dan PKK mampu terus menjadi kekuatan moderasi Islam; masih harus kita tunggu.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan