Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Sarat Nilai Edukasi, PKS Apresiasi Film "Hafalan Sholat Delisa"



Sarat dengan nilai edukasi dan nilai-nilai Islam, PKS Palmerah mengapresiasi film “Hafalan Sholat Delisa”. film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya Tere Liye ini, dinilai mampu memberikan motivasi bagi masyarakat.

Film "Hafalan Sholat Delisa" mengisahkan seorang anak kecil bernama Delisa yang diperankan oleh Chantiq Schagerl, yang khusyu menghafal bacaan sholatnya meski tsunami menghancurkan kota Lho Nga pada 26 Desember 2004 dan menggulung ketiga saudara perempuannya serta ribuan warga Aceh.

Sebagai bentuk apresiasi dari film ini, Bidang Perempuan PKS Palmerah mengadakan acara nonton bareng film besutan sutradara sutradara Sony Gaokasak ini, di salah satu bioskop di bilangan Palmerah akhir Desember lalu.

Acara ini digagas oleh Ketua DPRa PKS Palmerah yang sekaligus sebagai sponsor utama tiket gratis. Hal ini sebagai bentuk apresiasi terhadap rekan-rekan Bidpuan yang telah bekerja dan berkarya pada PKS Family Expo di Kota Tua. Tak hanya sampai di sini, PKS Palmerah juga mengajak simpatisan PKS dan para koordinator RW (Korwe) untuk nonton bareng film yang penuh dengan keharuan ini.

Kamis, 05 Januari 2012

Pendidikan Karakter Bangsa

Di masa pergerakan nasional, Soekarno muda pernah membuat sebuah konsepsi perjuangan berlabel “self-help” yang dimaknai sebagai sebuah sikap kemandirian bangsa yang tidak mudah tergantung dari bangsa-bangsa asing. Konsepsi sebagai bangsa yang mandiri ini ia ulangi lagi di tahun 1960-an ketika ia mengumandangkan sebuah jargon berlabel “berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri, yang juga memiliki makna yang sama dengan konsepsi sebelumnya. Lantas, Soekarno membandingkannya dengan gerakan Swadesi Gandhi yang mengkampanyekan penggunaan produk dalam negeri untuk melawan penindasan kolonial Inggris. Gerakan Swadesi India inilah yang menginspirasi Soekarno bahwa kemandirian bangsa harus dibangun melalui kerja keras, sebagaimana ia lukiskan sebagai kerja kerasnya bangsa Jepang yang bisa bangkit dari hancur leburnya negara mereka pasca Perang Dunia Kedua. Kemandirian dan kerja keras inilah yang nantinya menjelma menjadi sebuah martabat, yang bisa menumbuhkan kebanggan kita sebagai sebuah bangsa, terhormat berdiri di hadapan bangsa-bangsa lain.
Masih menurut Soekarno, dalam bukunya Di bawah Bendera Revolusi, karakter bangsa yang nantinya terbentuk adalah bangsa yang tidak ngak ngik ngok, yang tidak memiliki jati diri, terombang-ambing oleh sebuah kultur dunia yang menghegemoni, tidak menjadi bangsa tempe yang lemah tak berdaya dihadapan negara-negara besar.
Inilah sekelumit gagasan seorang Soekarno tentang model karakter bangsa Indonesia. Sayangnya, gagasan cerdas tersebut tidak memiliki fondasi dan konstruksi yang kokoh secara sosio-kultural. Problem kultur negara pasca kolonial yang cenderung bersifat xenophobia, gandrung terhadap budaya luar, mungkin saja menjadi variabel penghambat terwujudnya mimpi Soekarno.
Meskipun ada sisi positif dari karakter bangsa kita yang kita banggakan, semisal keramahan dan kegotongroyongan yang dianut oleh sebagian masyarakat kita, kita juga tidak bisa menafikan,  ada sisi kelam karakter bangsa yang menyeruak ke permukaan. Akhir-akhir ini, gejala disorientasi nilai-nilai, semisal pragmatisme, kepentingan individualistik yang dominan, dan perilaku korup segelintir elit menjadi menu sehari-hari ditayangkan oleh media. Pergeseran nilai-nilai etika pun kian telanjang dipertontonkan melalui media massa dalam bentuk yang lebih massiv. Beredarnya video porno dan produk-produk perfilman yang lebih banyak menjual sensualitas dan kekerasan justru menjadi komoditas industri yang  oleh segelintir pihak dianggap menguntungkan. Tayangan sinetron yang menembus sekat-sekat kelas yang mempertontonkan keculasan, kecurangan, kelicikan yang seringkali ditampilkan secara dominan dan terus menerus berimplikasi pada terkooptasinya pemikiran khalayak. Belum lagi, ada sisi kemewahan yang dipertontonkan  dan mempertunjukkan kepongahan dan kesombongan terhadap pihak yang lemah, miskin, dan tak berdaya dalam sinetron tersebut. Sehingga, tampilan dari tayangan sinetron itu pun seakan mengusik sensitivitas publik terhadap potret segregasi sosial yang semakin kentara. Bukan tidak mungkin, realitas media ini berimplikasi pada perilaku deviasi masyarakat.
Belum lagi, memudarnya jati diri bangsa karena serbuan budaya kapitalistik hedonistis yang semakin membuat kita menjadi bangsa yang tak percaya diri. Konsekuensinya, ketidakpercayaan diri inilah yang membuat kita menjadi bangsa yang lebih banyak tergantung dari bangsa lain, gandrung akan produk yang berlabel asing, konsumeristik, dan akhirnya menjadi bangsa yang menurut Soekarno disebut sebagai ngak ngik ngok tadi.
Keterusikan publik pun semakin terakumulasi ketika nilai-nilai kerukunan yang senantiasa dideklarasikan sebagai salah satu nilai luhur bangsa Indonesia, justru mengalami degradasi ketika konflik horizontal berbasis politik atau pun yang cenderung berbau SARA menjadi menu informasi di media.
Seakan tersadar akan potret buram wajah karakter bangsa akhir-akhir ini, pembuat kebijakan negeri ini pun melakukan selebrasi pencitraan dengan menggaungkan kembali perlunya membangun karakter bangsa. Tak kurang, Presiden SBY pun menempatkan pendidikan karakter untuk membangun peradaban bangsa sebagai tema dalam peringatan hari pendidikan nasional tahun 2010 lalu. Kementerian terkait, semisal Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudbar) pun ramai-ramai berusaha menterjemahkan konsepsi pendidikan karakter dari SBY tersebut dalam sebuah formula kebijakan bertajuk Pembangunan Karakter Bangsa. Kementerian Pendidikan Nasional sebagai institusi terdepan dalam mendesain pendidikan karakter ini lantas membuat desain induk kebijakan tersebut. Kemdiknas, kemudian mencirikan bangsa yang berkarakter sebagai bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral,, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, dan berorientasi IPTEK yang dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kemenbudpar pun tak ingin disebut ketinggalan dalam membuat formula kebijakan sejenis ini. Sebagai institusi penopang kebudayaan nasional, dan dalam kerangka pembangunan karakter bangsa, Kementerian ini pun mencanangkan 7 pokok pembangunan karakter bangsa yang meliputi sikap-sikap bangga sebagai bangsa Indonesia, bersatu dan bergotong royong, menghargai kemajemukan, mencintai perdamaian, pantang menyerah dan mengejar prestasi, demokratis dan berfikir positif.
Kementerian Agama yang disebut-disebut sebagai institusi pengawal nilai-nilai agamis pun mencoba mempertunjukkan kepeduliannya dengan pula mendesain konsep pendidikan karakter ini. Tak tanggung-tanggung, kementerian ini mencanangkan 34 perilaku berkarakter yang diharapkan terbentuk dari pendidikan karakter bangsa ini, misalnya agamis, jujur, amanah, terpercaya, sabar, tabah, keteladanan, ramah, santun, taat, dan sebagainya.
Tak pelak, desain dan arah kebijakan ini jelas memerlukan keterpaduan yang bersifat interseksi dan konsolidasi. Dalam interseksi kebijakan, berbagai instansi tersebut perlu membuat rumusan arah dan desain kebijakan yang bersinggungan satu sama lain. Perlu dibuat sebuah formula yang mengarah pada satu kata kunci tujuan dari model pembangunan karakter bangsa ini. Jika kita mengenal bangsa Jepang sebagai bangsa yang berdisiplin tinggi dengan kultur samurainya, seharusnya, kita juga perlu mendefinisikan sebuah karakter yang khas bangsa Indonesia.
Oleh karenanya, diperlukan konsolidasi kebijakan yang bersifat vertikal yang bisa menaungi ragam kebijakan tersebut sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Misalnya, bagaimana Kemdiknas dan Kemenag menyusun sebuah skenario dalam kurikulum yang terpadu, sehingga tergambar ada interseksi atau cross cutting  arah dan garis kebijakannya. Namun, di sisi lain, peran pengatur lalu lintas kebijakan tetap diperlukan agar tidak terjadi benturan kepentingan.
Membaca kondisi sosio-kultural
Kesemua konsep dan desain kebijakan itu memang masih sangat normatif. Semuanya berorientasi pada pencapaian nilai-nilai yang masih bersifat abstrak dan ideal. Sejatinya, sebuah kebijakan harus didukung pula oleh strategi implementasi dan pembacaan serta analisis terhadap realitas sosio-kultural dan historis yang mengitarinya. Karena, bisa jadi, pembacaan yang tidak tepat terhadap realitas sosio kultural justru akan menjadi faktor penghambat pencapaian tujuan kebijakan. Ada beberapa kondisi sosio-kultural yang perlu dibaca secara cermat.
Pertama, dalam episode perjalanan sejarah bangsa ini, konsekuensi dari negara warisan kolonial tentu saja menimbulkan sisa-sisa perilaku ketidakberdayaan dan ketidakmandirian. Rekam jejak inilah yang perlu dielaborasi untuk mengeliminasi nilai-nilai yang nantinya bisa menghambat pembentukkan karakter yang diharapkan.
Kedua, kultur budaya yang mendominasi juga turut berpengaruh terhadap pencapaian kesukseksan kebijakan ini. Kultur budaya feodal yang lebih mengedepankan pada hubungan patriarki konservatif, senioritas, bapakisme,  masih menggejala dalam banyak strata di masyarakat. Mungkin, di satu sisi, kultur budaya ini akan mempertahankan nilai-nilai harmonis hubungan patron-client dan  penghormatan terhadap orang tua. Akan tetapi, di sisi lain, sikap konservativisme yang berlebihan justru akan berkontribusi terhadap kemandulan daya kritis dan inovasi masyarakat untuk melakukan sebuah perubahan. Konservatisme berlebihan inilah nantinya yang dapat berakibat cultural lag (ketertinggalan budaya) karena tidak bisa beradaptasi secara tepat dalam lingkungan yang berubah.
Ketiga, lingkungan geografis bangsa Indonesia yang beragam harus pula dilihat, apakah sebagai faktor yang menguntungkan atau merugikan. Secara sosiologis, lingkungan fisik suatu masyarakat akan berpengaruh terhadap perilaku dan budaya yang beragam dan majemuk. Keragaman dan kemajemukan budaya masyarakatnya inilah yang berpotensi menimbulkan sikap primordialisme yang bisa berwujud etnosentrisme.
Keempat, struktur sosial masyarakat yang sangat beragam dan komplek, juga harus diperhitungkan sebagai faktor yang dapat mengeliminasi pembentukkan karakter bangsa. Stratifikasi dan diferensiasi sosial masyarakat, baik secara sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan politik mempengaruhi cara pandang, penerimaan, dan persepsi masyarakat terhadap esensi karakter bangsa. Misalnya, masyarakat di pedesaan yang umumnya tradisional, tentu berbeda dalam memandang sebuah tata nilai yang dianut, jika dibandingkan dengan sikap rasional masyarakat perkotaan.
Di luar empat faktor yang perlu diperhatikan di atas, kebijakan ini tentu harus bersinergi pula dengan media massa sebagai salah satu unsur pembentuk dan pembangun nilai-nilai berkarakter. Karena, kita meyakini bahwa media sangat besar pengaruhnya dalam menyampaikan pesan membentuk perilaku masyarakat. Sepanjang kebijakan penayangan konten atau pesan yang disampaikan tidak bersinergi dan tidak kondusif untuk membentuk karakter bangsa, selama itu pula upaya pembangunan karakter bangsa seperti yang diharapkan tersebut, akan terus menjadi selebrasi semu yang tak berkesudahan. (Widiarto // DPR RI, Komisi X)

Rabu, 04 Januari 2012

PKS Siapkan Pasukan Khusus untuk Perang Media


Menatap 2014, ranah media sosial jadi lahan garapan baru bagi partai politik. Wilayah itu dilirik karena banyaknya pemilih muda yang bermain dengan media sosial seperti twitter dan facebook. Tak mau kalah untuk menyebarkan ide, PKS juga siap 'berperang' di media sosial.

"Secara official ada. Dan yang pejabat publik, kadang-kadang meng-hire staf," jelas politisi PKS, Yudi Widiana, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/1/2012).

PKS, lanjut Yudi, tidak menganggap main-main dalam 'perang' di media sosial ini. Apalagi era ke depannya, kampanye juga dilakukan di dunia maya.

"Ya tentu, bahkan secara umum hampir 70 persen kader kami melek IT," imbuhnya.

Selain lewat media sosial, PKS juga sudah membangun informasi bagi publik untuk mengakses situs mereka. "Kita punya web untuk partai dan fraksi di setiap tingkatan," jelasnya.

detik.com

Selasa, 03 Januari 2012

Jago Merah Lalap 50-an Rumah di Kwitang

Warga mulai membersihkan dan berbenah pasca kebakaran yang melanda kawasan Kramat Kwitang RT 09 RW 09, Jakarta Pusat.

Jakarta - Jago merah mengamuk lagi. Tak kurang dari 50 rumah dan kios hangus akibat lalapan api. Warga Jl Kramat Kwitang III RT 9/ RW IX, Jakarta pun panik. Api mulai membumbung sekitar pukul 02.00 WIB, Kamis (24/8/2006). Penyebab kebakaran masih simpang siur. Diduga api berasal dari pembakaran dupa sesaji salah seorang warga. Lokasi kebakaran adalah di pemukiman padat penduduk yang terletak di dekat Pasar Dalam Kwitang. Sekitar 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api. Pukul 05.30 WIB, api sudah bisa dikuasai. Warga setempat masih berkerumun di lokasi kejadian. Petugas pemadam kebakaran juga mengambil air dari Sungai Ciliwung untuk memadamkan api. Sementara itu, situasi lalu lintas masih lancar, mengingat peristiwa terjadi pada dini hari. (nvt/)

Usai Kebakaran Kwitang, Pedagang Masih Semangat Gelar Dagangan
Ari Saputra - detikcom Jakarta - Bau hangus masih kuat tercium. Bahkan asap sisa kebakaran di Jl Kramat Kwitang III, Jakarta Pusat, masih mengepul. Namun para pedagang Pasar Dalam Kwitang masih bersemangat menggelar dagangannya.

Akibat kebakaran, banyak los pasar yang tidak bisa digunakan. Jalan sekitar pasar pun digunakan untuk tempat berdagang. Namun pedagang yang tidak kebagian tempat terpaksa masuk ke dalam pasar yang gelap.

Sabtu, 31 Desember 2011

Ini Pejabat yang Tak Sungkan Berdesakan di KRL

[detik.com] Jakarta - Di jam-jam sibuk, umumnya kereta rel listrik (KRL) di Jabodetabek disesaki penumpang. Rupanya sedikit dari banyaknya pejabat di negeri ini tidak sungkan menggunakan KRL dan transportasi umum lainnya. Siapa saja?




1. Tb Soenmandjaja Rukmandis


Anggota DPR dari FPKS ini mengaku sehari-hari menggunakan angkutan umum untuk menuju Gedung DPR. Dari rumahnya yang terletak di Bogor, Kang Soenman, demikian dia biasa disapa, berjalan kaki menuju tempat angkot ngetem. Perjalanan dia lanjutkan menggunakan KRL hingga Stasiun Karet. Nah, dari stasiun ini, Kang Soenman memilih naik Kopaja 608 jurusan Blok M - Tanah Abang hingga ke Gedung Dewan.

Padahal kalau mau, Soenman bisa menggunakan Toyota Rush dan Suzuki APV yang terparkir di rumahnya. Namun dia lebih suka berangkat kerja dengan angkutan umum karena lebih irit. Berdesakan di KRL bukanlah masalah, karena Soenman bisa bertemu banyak orang untuk menyerap aspirasi.


2. Akbar Faizal

Politikus dari Partai Hanura, Akbar Faizal, juga salah satu pejabat yang menyimpan mobilnya dan memilih menggunakan kendaraan umum saat pergi ke tempat kerja. Akbar yang tinggal di Depok, Jawa Barat, tidak mau kehilangan banyak waktu di jalan karena macet. Itu makanya dia memilih menggunakan KRL.

Biasanya Akbar naik dari Stasiun KA Depok Lama dan turun di Stasiun Dukuh Atas. Lalu dia melanjutkan perjalanan ke Gedung DPR dengan menumpang taksi atau ojek. Akbar menaruh mobilnya di Gedung DPR karena terkadang dia harus menghadiri kegiatan Dewan di luar Gedung DPR. Untuk diketahui, Akbar memiliki Honda Civic keluaran 2008 dan Honda CRV edisi 2009 yang dibelinya sebelum menjadi anggota Dewan.

3. Aus Hidayat Nur

Anggota DPR Aus Hidayat Nur juga salah satu penumpang setia KRL. Mengingat rumahnya terletak di Jalan Kelapa Dua Raya RTM Cimanggis, Depok, maka Aus menjadikan KRL sebagai kendaraan umum andalan. Selain lebih efektif dan efisien, Aus juga menggunakan KRL untuk menerapkan hidup sederhana.

Bagi pria yang lama berkecimpung di dunia bisnin multi level marketing ini, jabatan di DPR hanyalah 5 tahun. Karena itu tak sewajarnya jika lantas membuatnya menjalani gaya hidup mewah.

Biasanya politus PKS ini keluar dari rumah dengan menumpang sepeda motor anaknya hingga Stasiun Universitas Indonesia. Kemudian dia naik KRL hingga ke Stasiun Tanah Abang. Perjalanan ke Gedung DPR dilanjutkannya dengan menggunakan ojek. Namun bila kegiatan di parlemen tak padat, ia terkadang menggunakan Proton Exora, mobil produksi Malaysia yang dibeli dengan cara mencicil ini.

4. Bambang Widjojanto

Pria yang baru saja duduk di kursi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ini adalah penggemar KRL. Bagi Bambang, alat transportasi umum memang sudah sangat akrab baginya. Dia tak pernah gengsi menggunakan KRL atau ojek untuk mengantar dia ke tempatnya bekerja. Namun bukan berarti dirinya sama sekali mengharamkan mengendarai mobil.

Mengingat rumahnya di Depok Timur dengan kantor KPK yang di Kuningan, Jakarta Selatan, cukup jauh, maka KRL adalah pilihan transportasi yang paling rasional. Meski sudah jadi anggota KPK, dia akan tetap memprioritaskan memakai ojek atau KRL untuk bekerja.

5. Dahlan Iskan

Dahlan Iskan selama menjadi Menteri BUMN sedah dua kali terpergok menaiki KRL. Pada 5 Desember lalu, Dahlan menaiki KRL tanpa pengawalan. Kegiatan itu dilakukan Dahlan untuk melihat pelayanan dan operasional BUMN transportasi tersebut..

Kegiatan serupa dilakukannya hari ini, Jumat (23/12/2011) saat akan menghadiri sidang kabinet yang digelar di Istana Bogor. Mantan Dirut PLN ini naik dari Manggarai menuju Bogor. Setibanya di Stasiun Bogor, perjalanan ke Istana Bogor dilanjutkan dengan menggunakan ojek.

Masih ada beberapa pejabat yang terlihat bersahaja jika ditilik dari penggunaan kendaraan umum. Misalnya saja anggota Komisi II DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Budiman Sujatmiko. Saat ini dia tengah menyicil rumah sederhana dan tak segan ngojek ke kantornya di Senayan.

Anggota Komisi IX dari F-PDIP Nursuhud juga sejak dilantik jadi anggota dewan tetap memakai ojek. Dia mengaku punya mobil, tapi sering digunakan anaknya. Ojek menjadi pilihan dia lantaran bisa mengantarkannya ke Gedung DPR tepat waktu.

Dengan menaiki angkutan umum, para pejabat itu memang terkesan sederhana dan membumi. Meski beberapa dari mereka lebih mempertimbangkan efisiensi saat memilih menggunakan angkutan umum. Semoga pejabat yang naik angkutan umum ini semakin banyak, dan bukan hanya untuk meningkatkan citra.

*)http://www.detiknews.com/read/2011/12/23/114601/1798352/10/ini-pejabat-yang-tak-sungkan-berdesakan-di-krl?991104topnews

Kamis, 29 Desember 2011

Apa Yang Kita Lakukan Pada Hari Jumat ?

PKS Jakarta - Sekarang adalah hari Jumat. Sekedar mengingatkan, ada beberapa hal yang khusus dan spesifik terkait hari Jumat. Bagi umat Islam, hari Jumat memiliki nilai keistimewaan, sebagaimana telah disabdakan Nabi Saw: “Hari terbaik terbitnya matahari adalah pada hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu tersebut dia dikeluarkan dari surga” (HR. Muslim).
Nabi Saw juga telah bersabda, “Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, Allah menjadikannya istimewa bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan mendatangi shalat Jumat hendaklah dia mandi” (HR. Ibnu Majah).
Berikut beberapa tuntunan pada hari Jumat.
1. Memperbanyak Shalawat Nabi
Nabi Saw bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat bagiku pada hari Jumat dan malam Jumat, sebab barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu shalawat saja maka Allah akan membaca shalawat kepadanya sepuluh kali shalawat” (HR Baihaqi).
2. Mandi Jumat
Salah satu tuntunan pada hari Jumat adalah mandi Jumat, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Waktunya adalah sebelum berangkat shalat Jumat, dengan cara seperti mandi janabat biasa.
3. Menggunakan Wewangian
Nabi Saw bersabda, “Barang siapa mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sesuai yang ditentukan baginya dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Bersegera Berangkat ke Masjid
Nabio Saw bersabda, “Barangsiapa yang mandi, lalu bergegas menuju masjid, mendekat kepada posisi imam, mendengar dan memperhatikan khutbah maka setiap langkah yang dilangkahkannya akan mendapat pahala satu tahun termasuk puasanya” (HR. Imam Ahmad).
5. Shalat Jumat dan Shalat Sunnah Setelahnya
Nabi Saw bersabda, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka shalatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka shalatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang” (HR. Muslim, Tirmidzi).
6. Membaca Surat Al Kahfi
Nabi Saw bersabda, “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat” (HR. Imam Hakim).
7. Memperbanyak Doa
Pada hari ini terdapat saat terkabulnya doa, sebagaimana penjelasan Nabi Saw,  “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu saat tidaklah seorang muslim mendapatkannya dan dia dalam keadaan berdiri shalat dia meminta kepada Allah suatu kebaikan kecuali Allah memberikannya, dan dia menunjukkan dengan tangannya bahwa saat tersebut sangat sedikit” (HR. Muslim dan Al-Bukhari).
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1934

Sule : Demi PKS Saya Membatalkan Undangan di tempat lain

Jakarta (17/4) : Kedatangan Sule "Prikitiw" langsung disambut heboh massa di GBK. Massa yang membludak langsung berdiri semangat menyambut Sule.
" Selamat Ulang Tahun yang ke 13 PKS," ucapnya.
Sule membuka perjumpaan dengan massa PKS dengan mengucapkan selamat milad ke-13. Kontan para kader dan simpatisan yang langsung menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Pelawak Opera Van Java ini selanjutnya mengajak massa untuk yang melaut ini untuk mebuat gelombang keadilan. Tanpa dikomando lagi massa langsung bersemangat menyambut seruan Sule.
" Demi PKS, saya membatlakan acara saya ke Semarang, " lanjutnya yang disambut tepuk tangan meriah oleh massa yang hadir.
Loh, memang ada acara di Semarang? " Lagian, ngapain juga saya ke Semarang, gak ada yang ngundang," spontan Sule menjawab pertanyaan MC. Massa menyambut dengan gelak tawa yang membahana.
" Saya datang kemari karena saya ingin mendukung upaya PKS dalam memajukan bangsa," lagi-lagi massa menyambut dengan tepuk tangan yang lebih meriah.
Terakhir Sule menyapa semua duta besar yang hadir dengan logat Inggris dan Arab yang dimain-mainkan. Sambutan heboh kembali terjadi saat Sule membacakan nama Dubes Palestina.
Awas ada Sule!!!! Prikitiwww!!!

Rabu, 28 Desember 2011

Presiden PKS : Tidak Ada Kemenangan Kecuali Dari Allah


PKS Jakarta - Bagi Presiden PKS, Luthfi Hasan Iskaq, kemenangan bukanlah berasal dari manusia tetapi kemenangan berasal dari Allah SWT.

Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq memberikan sedikit taujihnya kepada para kader yang hadir di acara Open House PKS di Markas Dakwah wilayah Pasar Minggu. Memberikan sambutan usai Bang Sani, Presiden PKS itu membuat suasana yang awalnya hiruk pikuk menjadi hening.

Dalam taujihnya, Luthfi Hasan mengatakan program silaturahmi seperti ini harus dilaksanakan mulai dari personal, halaqoh, keluarga dan para tokoh masyarakat. “Kalau bisa setiap datang ke rumah tokoh masyarakat atau ulama, maka mintalah nasehat kepada mereka,” ujarnya.

Luthfi juga mengatakan selama Ramadhan kita mempunyai lifestyle ibadah tersendiri maka untuk itu usai Ramadhan lifestyle itu harus dipertahankan. “ Ritme hidup harus dijaga, ibadah sehari-hari harus dijaga, jagalah suasana Ramadhan hingga bertemu Ramadhan yang akan datang,” tambahnya.

Lebih lanjut, ayah 11 orang anak ini mengatakan tentang kiprah PKS di pemilu yang akan datang, “ Masalah kemenangan tidak ada kemenangan kecuali murni karunia pemberian dari Allah. Jika mau menang maka harus mendekat pada yang memberi kemanangan,” lanjutnya yang disambut takbir oleh para Kader.

Terakhir dia berpesan agar para kader senantiasa menjauhi rasa bangga diri dan memarjinalkan Allah. Dia juga berkata bahwa seorang ikhwah harus akrab dengan ulama dan meminta para kader untuk memastikan bahwa setiap hari masih ada suasana Ramadhan. (yas)

Media Sosial dan Blog Jadi Rujukan Utama


TANGERANG, KOMPAS.com - Media sosial dan blog menjadi rujukan utama pengguna internet dalam mencari informasi saat ini. Hal itu merupakan pergeseran dalam mencari informasi dari media konvensional ke media baru.

Lee Tien Rien, President Association of Private Universities and Collages Taiwan menyatakan jejaring sosial media menjadi sebuah fenomena baru yang mendunia. Di dalamnya, pengguna bisa melakukan diskusi, berbagi aktivitas, berbagi foto, video bahkan mencari informasi apapun baik terkait merk tertentu hingga artis.

"Jejaring sosial dan blog menjadi tujuan paling utama masyarakat dalam mencari informasi di setiap negara," ungkap Lee dalam Seminar "New Media for the New Modern Knowledge-based Indonesia" di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Banten, Jumat (25/11/2011).

Di Amerika Serikat, jejaring sosial dan blog dipakai oleh hingga 80 persen pengguna internet aktif. Jumlah tersebut menggambarkan aktivitas online mayoritas penduduk Amerika Serikat.

Di masing-masing negara di dunia juga memiliki situs jejaring sosial ataupun blog yang diminati. Misalnya untuk penduduk dunia masih meminati Facebook dan Twitter. Sedangkan di Amerika Serikat sendiri, situs Tumblr dan Blogger menjadi favorit.

Beda lagi dengan Kanada yang memfavoritkan Nexopia, Amerika Tengah dan Selatan lebih menyukai Orkut dan Hi5, India lebih suka Facebook dan Twitter serta Asia Pacific didominasi oleh Mixi, Multiply, Wretch, Renren, dan Cyworld.

"Orang zaman sekarang lebih menyukai visualisasi daripada hanya sekadar teks. Situs jejaring sosial tersebut sudah mewakili keinginan masyarakat sekarang. Hanya dengan sekali klik, maka kita sudah bisa menjelajah dunia," tambahnya.

Profesor dari Chinese Culture University tersebut juga menjelaskan kecenderungan masyarakat untuk selalu terkoneksi dengan situs jejaring sosial adalah masyarakat ingin menjadi bagian di dalam situs sosial tersebut. Dengan memasukinya, masyarakat mendapatkan pengalaman baru untuk saling berbagi, berdiskusi dan terlibat aktif menyebarkan dan mendapatkan informasi secara cepat.

Tak hanya bagi individu, Lee menyarankan agar perusahaan mau menggunakan fasilitas jejaring sosial media untuk mendekatkan dengan penggunanya. Selain itu, perusahaan juga dapat mendapatkan informasi terkait karakteristik penggunanya sekaligus dapat melihat kekuatan pesaing.

CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo menambahkan keberadaan media baru tersebut telah menggeser kedudukan media lama. Kehadirannya telah membawa banyak perubahan pada pola kehidupan masyarakat, budaya dan cara berpikir masyarakatnya. Termasuk juga perubahan lansekap dalam industri media sehingga penyajian konten media dapat lebih mudah, murah dan cepat.

"Perubahan lansekap industri media baru tidak dipungkiri memiliki peran dalam membangun masyarakat yang berbasis pengetahuan. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi menjadi pemicu pertumbuhan penggunaan internet," jelas Agung.

Hingga saat ini, pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia per Januari 2011 sudah menjadi 50 juta orang, naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Uniknya, mereka kebanyakan mengakses dari perangkat ponsel pintar (smartphone).

Sumber:http://tekno.kompas.com/read/2011/11/25/21104845/Media.Sosial.dan.Blog.Jadi.Rujukan.Utama

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan